Percaya tak percaya, di Indonesia yang katanya sudah merdeka ini masih saja terjadi diskriminasi almamater di dunia kerja. Ini benar-benar aneh, hal ini kusadari setelah beberapa kali mengikuti jobfair di kampus teknik ternama di Bandung. Dengan penuh semangat menyiapkan berlembar-lembar print-out CV milikku sendiri dan titipan sejumlah teman. Tiket masuk memang gratis, lagipula beberapa stand menyediakan souvenir jadi makin semangatlah menuju lokasi demi status sebagai buruh di perusahaan ternama dan menyenangkan orangtua karena badge 'pengangguran berijazah' sudah menempel di lengan bajuku cukup lama.
Pertama kali mengikuti jobfair penampilanku luar biasa cantik, bak mbak-mbak teller bank, rapi, klimis, dijamin pangling-lah. Tapi berikutnya aku tak lagi mengutamakan penampilan. Terakhir di titian karir 2010 lalu aku datang dengan tas ransel carier berisi penuh barang pesanan teman-teman, berjaket, celana komprang dan sepatu santai. Tak pula aku membawa selembar CV, memang niat utamanya hanya memantau keadaan sambil berburu souvenir :) Bukan main peserta membludak, bayangkan saja pengisi stan adalah perusahaan ternama, sebut saja Chevron, Schlumberger, Wilmar, United Tractor, Loreal, Telkomsel, Bank Mandiri, BNI, Artajasa, Kompas Group, Oberthur, Bentoel, Freeport, semua ada dan masih banyak lagi.
Kuikuti satu-per satu presentasi mereka, dan akhirnya rasa penasaranku akan tanya "Mengapa tak satu pun alumni dari Universitas Lampung dipanggil tes di perusahaan-perusahan ternama tersebut", kalaupun ada yang memanggil tes itu adalah perusahaan yang belum begitu bernama. Ternyata perusahaan-perusahaan bonavide tersebut sengaja datang dan mengikuti jobfair tersebut untuk menjaring tenaga teknis dari Universitas ternama saja, penyaji sendiri yang menyebut demikian. Maka pupuslah harapanku untuk dapat dipanggil tes di perusahaan migas terkenal. Dan tahukah teman, di salah beberapa stan perusahaan migas, form pengisian biodata peserta yang melakukan drop CV dalam bentuk softcopy, pada bagian pilih menu asal universitas hanya terdapat setidaknya tujuh pilihan: ITB, UI, UGM, UNPAD, ITS, Overseas, dan Others. Sakit hati mamang :(
Satu lagi pengalaman pahitku, ketika drop CV untuk posisi ODP bank m*****i kutulis pendidikan S1 Universitas Lampung, S2 IT* belum lulus, awalnya petugas melihat tulisan IT* dan dia bertanya sekali lagi padaku "IPK terakhir 3,xx dari IT* ya?" kujawab "saya belum lulus, itu IPK sementara. Kalau S1 saya 3,xx", dan petugas seolah merasa hampir kecolongan dia langsung membaca ulang CV ku dan melingkari besar-besar di nama perguruan tinggiku Universitas Lampung. Saat pengumuman daftar nama yang dipanggil wawancara tak kujumpai namaku di sana, sudah kuduga. Dan 90% dari yang terpanggil adalah alumni dari perguruan besar, sisanya overseas, dan sejumlah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta.
Tak masalah sistem ini diberlakukan jika memang semua fasilitas dan standar pendidikan tinggi di Indonesia sudah sama terserah perusahaan mau ambil yang mana. Atau jika ada jaminan bahwa alumni universitas ternama tersebut berkualitas lebih daripada alumni perguruan luar jawa, silakan saja melakukan eliminasi awal dari nama almamater asalnya. Apa gunanya akreditasi dikti jika ternyata alumninya disingkirkan sebelum diuji. Atau memang cara mendidik di kampus mereka jauh lebih baik dari kampus luar jawa. Jujur aku mengagumi sistem pendidikan di Poltek Telkom Bandung. Seorang temanku yang mengajar sebagai dosen tak tetap di sana berbagi cerita padaku betapa mudahnya menebar nilai D dan E. Sekali ketahuan mencontek E untuk semua mata kuliah selama satu semester itu. Sadiiis...! Tapi nyatanya skill alumninya cukup ok, walaupun gak sedikit pula yang frustasi dibuatnya :) Kalau begitu cara mendidiknya aku yakin nilai C di poltek nilainya bisa lebih baik dari pada B di PTN terkenal. Mungkin suatu saat Unila perlu mencoba cara seperti itu untuk membuktikan bahwa anak didiknya berkualitas.
Wallahualam..
Diskriminasi Almamater di Dunia Kerja
Posted by Dwi Puspita Anggraeni | | Diary, Education | 10 comments »
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





klo kita percaya bahwa apa yang kita dapat dan apa yang kita punya merupakan hal terbaik yang Allah SWT berikan, tentu hidup tak akan pernah membenani perjalanan kita. Memang terkadang kita lupa bahwa apa yang kita punya bukanlah jaminan, melainkan apa yang kita lakukan untuk hidup yang seperti apa.
pengalaman yang luar biasa, kalau masalah rejeki, saya yaki ntak akan kemana,, tetep semangat bro..
semangat, mami!!!
tnang bong.. aku gak berencana untuk mengandalkan ijazah lagi :)
keren bangett,..... infonya mantepp banget....
membantu saya yang lagi nyari pencerahan.
ciptt..
nice post
salam kenal buat semuanya ;;)
owh seperti itu to
salam kenal ja buat semuanya
belum rejeki mungkin bersyukur aja ... pasti ada balesannya
minta follbacknya :)
Allah Maha Tahu,,,kita harus terus berusaha dan Allah Akan memberikan yang terbaik buat kita,,
siiipppp dah!!
info yang bagus, semoga bermanfaat bagi kita semua.,